Memulihkan Adab, Menangkal Radikalisme

Beberapa hari lalu saya berpapasan dengan sepasang remaja yang naik motor. Waktu itu mobil saya memang agak memakan jalan ke kanan. Saya tengok si pengemudi motor marah dan mengeluarkan kata-kata kotor sambil memaki. Waktu mobil saya berhentikan, saya lihat di spion remaja itu pergi begitu saja sambil tertawa.

Kalau saya perhatikan, mereka itu pelajar sekolah menengah atas (SMA), dipandang dari seragamnya. Saya berasumsi, kok mobil cuma agak ke kanan sedikit, pelajar itu marah dan memaki saya dengan kata-kata kotor. Sepertinya dia tidak tahu siapa di dalam mobil karena kaca mobil agak gelap dan tertutup rapat.

Saya termangu. Kenapa seorang pelajar SMA dengan tangkasnya mengeluarkan kata-kata kotor kepada orang lain, yang rasanya tidak cocok dengan bahasa anak sekolahan. Bukankah itu soal sepele saja, tidak harus memaki dengan kalimat kasar.

Tak berapa lama, waktu antri pangkas rambut, saya ketemu rombongan pelajar. Mereka ada lima orang dan melihat wajahnya, kemungkinan pelajar kelas satu atau dua SMA. Malah saya perhatikan ada yang murid SMP, melirik wajah mudanya.

Mereka berbicara dengan suara keras, tanpa memperdulikan lingkungan sekitar. Beberapa nampak merokok sambil tertawa dengan intonansi keras. Dari gayanya, mereka tergambar agak urakan dan tak memiliki empati dengan sekitar.

Awalnya saya sempat mikir, jangan-jangan saya yang terlalu sensitif? Atau ini memang tanda zaman yang sudah berubah? Waktu saya muda dulu, kami juga bandel. Tapi entah kenapa, rasanya ada yang berbeda. Ada yang lebih…kasar, mungkin.

Tak lama berselang, saya menemukan berita “Densus Ungkap Ciri-ciri Anak Terpapar Paham Kekerasan Ekstrem”.

Dalam berita itu juru bicara Densus 88 Polri, Kombes Mayndra Eka mengatakan setidaknya ada 70 anak terpapar ideologi kekerasan ekstrem di Indonesia. (detiknews, 8 Jan 26).

Menurutnya, ada enam ciri-ciri anak yang terpapar ideologi kekerasan ekstrem. Pertama, mereka kerap menyukai simbol maupun nama pelaku tindakan kekerasan pada barang pribadinya.

Kedua, anak yang sudah terpapar cenderung menarik diri dari pergaulan. Anak lebih suka menyendiri dan berlama-lama mengakses komunitas penyuka konten kekerasan seperti True Crime Community.

Ketiga, suka menirukan tokoh atau idola. “Nah ini sudah terbukti, kita memiliki insiden–pernah terjadi insiden di SMAN 72 Jakarta yang melakukan tindakan tersebut, dari replika senjatanya, dari postingannya, dari gaya berpakaiannya,” ucapnya.

Keempat, anak cenderung menyukai konten kekerasan tidak standar hingga berlebihan pada ponselnya. “Konten yang diakses tidak lazim, sehingga kalau orang normal melihat itu pasti tidak tega melihat kejadian-kejadian kekerasan yang sering diunggah di komunitas tersebut,” lanjut Mayndra.

Kelima, anak akan marah berlebih jika ponselnya dilihat orang lain. Dia akan menyatakan bahwa konten yang diakses merupakan bagian dari privasi.

Lalu, ciri terakhir, anak membawa senjata api replika hingga pisau yang identik dengan kekerasan ke sekolah. Hal itu dianggap sebagai inspirasi untuk melakukan kekerasan. “Kadang dia bawa ke sekolah untuk dibuat inspirasi melakukan kekerasan,” imbuh Mayndra.

Dari enam ciri itu, tak semuanya tampak pada peristiwa yang saya alami. Mungkin ada yang berpendapat, itu cuma kenakalan remaja doang. Namun yang mengkhawatirkan adalah hilangnya kepedulian, adab dan kontrol emosi.

Tapi melihat reaktif dan kurang empatinya para pelajar itu terhadap lingkungan, saya berkeyakinan perilaku ini bisa menjadi indikasi awal degradasi empati yang, jika dibiarkan, berpotensi mejadi pintu masuk pada paham kekerasan ekstrem. Saya menilai mereka jauh dari adab sopan santun jamaknya pelajar SMA.

Menurut literatur, paham kekerasan ekstrem tersebut bakal bermuara kepada radikalisme. Karena mereka berpikir untuk mengatasi ketidaksesuai (apakah itu sosial, intoleransi, agama) menurut pikiran para pelajar itu, akan diselesaikan dengan kekerasan.

Oleh karenanya, lantaran para pelajar masih berada dalam masa krusial pendidikan, maka diharapkan sekali keterlibatan satuan pendidikan untuk membekali dengan wawasan kebangsaan dan pengaplikasian adab dalam kehidupan sehari-hari.

Sesungguhnya, tidak saja Lembaga Pendidikan yang harus punya atensi terhadap perkembangan pelajar tapi juga organisasi yang berkaitan langsung dalam pencegahan radikalisme, seperti Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), organisasi kepemudaan, dan organisasi kemasyarakatan (Ormas).

Sesungguhnya, apa yang saya alami tersebut bukan sekedar soal anak muda yang kurang sopan. Ini adalah sinyal peringatan bagi kita semua. Adab adalah benteng pertama. Jika empati mereka sudah tumpul sejak bangku sekolah, maka paham kekerasan akan sangat mudah masuk mengisi kekosongan tersebut.

Oleh sebab itu, upaya memulihkan adab harus menjadi gerakan kolektif yang terstruktur, sistematis dan masif (TSM). Sekolah, keluarga, dan pihak terkait harus bersinergi memastikan bahwa generasi muda tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga memiliki kehalusan budi yang mampu menangkal radikalisme.

Itu sebab, memulihkan adab hari ini adalah investasi paling nyata untuk menjaga keutuhan bangsa di masa depan.*

Ridarman Bay
Kabid Pemuda & Pendidikan FKPT Kepri