FKPT Babel Pesan pada Santri dan Pengasuh Ponpes Darurrohmah Bangka Tengah, Waspadai Game Online Menjadi Sarana Kelompok Terorisme Rekrut Anggota
Koba, FKPT Babel – Pengurus Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melaksanakan kunjungan ke Pondok Pesantren Darurohmah Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah, pada awal tahun 2026. Kegiatan ini dilaksanakan bertepatan dengan awal masuk pondok pesantren setelah masa libur sekolah, Selasa (6/1/2026).
Kunjungan tersebut disambut oleh pengurus Pondok Pesantren Darurohmah Lubuk Besar serta para santriwan dan santriwati di ruang pertemuan pondok pesantren. Dalam kesempatan itu, Ketua FKPT Babel, Subardi, menyampaikan materi pengenalan FKPT, termasuk dasar hukum pembentukannya sebagai mitra Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia.
Subardi memaparkan visi, misi, serta struktur kepengurusan FKPT Babel, sekaligus memberikan pemahaman kepada para siswa mengenai bahaya radikalisme dan terorisme. Ia menegaskan bahwa anak-anak usia sekolah saat ini menjadi salah satu kelompok yang rentan menjadi target penyebaran paham kekerasan dan ideologi radikal, termasuk ajakan bom bunuh diri dan tindakan ekstrem lainnya.
Menurutnya, aksi teror merupakan bentuk kekerasan yang bertujuan menimbulkan ketakutan secara luas dengan muatan ideologis tertentu. Oleh karena itu, penting bagi pelajar untuk memahami ciri-ciri dan modus penyebaran paham radikal sejak dini.
Subardi juga menyoroti maraknya penyebaran ideologi kekerasan melalui media sosial dan kelompok-kelompok tertentu, termasuk ajakan untuk menolak Pancasila atau menggantinya dengan sistem khilafah. Ia mengingatkan para siswa agar tidak mudah percaya pada satu sumber informasi saja tanpa melakukan klarifikasi kepada guru, orang tua, atau pihak tepercaya lainnya.
Sejak 2016, kelompok terorisme menjadikan internet sebagai sarana pencarian anggota baru dan penyebaran paham.
“Pelaku teror bisa bertindak ekstrem karena hanya mendengar satu versi kebenaran. Jika menemukan informasi mencurigakan atau ajakan dari komunitas tertentu, segera sampaikan kepada orang terdekat. Jangan ragu untuk bertanya dan berdiskusi,” ujar Subardi.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penyebaran radikalisme di kalangan generasi muda dapat terjadi melalui berbagai media, seperti internet, buku, majalah, dakwah langsung, diskusi tertutup, pertemanan, hingga lingkungan keluarga dan lembaga pendidikan.
Terorisme dapat menyasar siapa saja tanpa mengenal batas usia, profesi, tingkat ekonomi, dan tingkat pendidikan
Dalam upaya pencegahan, BNPT melalui FKPT mengedepankan strategi Pentahelix, yaitu kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, media, dan dunia usaha. Selain itu, FKPT juga menanamkan lima “vaksin kebangsaan” sebagai langkah pencegahan dini terhadap radikalisme dan terorisme.
Di akhir pemaparannya, Subardi menekankan pentingnya peran pelajar dalam upaya pencegahan terorisme dan radikalisme. Ia mengajak para santri untuk menumbuhkan rasa nasionalisme, memperkuat pemahaman agama yang moderat dari sumber yang tepercaya, serta membentengi diri dari berbagai bentuk provokasi dan hasutan, baik di lingkungan nyata maupun di dunia maya.
“Deteksi dini, peran keluarga, serta keterlibatan aktif dalam komunitas yang damai merupakan langkah konkret yang dapat dilakukan pelajar sejak dini,” pungkasnya.
Secara khusus kepada pengasuh di Ponpes Darurrohmah dipesankan bahwa meningkatkan sensitifitas terhadap perubahan sikap dan perilaku santri serta mengambil tindakan cepat ketika mendapatkan adanya perubahan sikap dan perilaku santri. Hal ini untuk menghindari aksi berlebihan yang mungkin dilakukan, yang bisa saja membahayakan bagi diri maupun keluarga besar ponpes.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa baru Pondok Pesantren Darurohmah Lubuk Besar dapat memahami pentingnya menjaga persatuan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman radikalisme dan terorisme di lingkungan mereka.

