Teroris dan Donor Darah: Pelajaran untuk Kemanusiaan

Pontianak, FKPTKalbar~Malam itu, di bulan Juli 2025, dalam perbincangan hangat dan bermakna, Prof. Dr. Irfan Idris, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI di Pontianak, menyampaikan sebuah kisah yang menggugah hati.

“Saya pernah menyampaikan kepada seorang napiter –narapidana terorisme: Ketika keluarga Anda membutuhkan darah dan mendapatkan darah dari seorang pendonor, apakah Anda akan bertanya terlebih dahulu ‘darah siapa ini?’ Bagaimana jika darah itu berasal dari orang yang Anda benci, musuh yang selama ini Anda anggap layak dibunuh? Bagaimana jika pendonor itu memakan makanan yang bahkan haram?”…

Cerita tentang pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan sekadar retoris. Pertanyaan itu menyentuh nurani kita sebagai manusia dan menyibak lapisan-lapisan kebencian yang selama ini, bahkan tumbuh di antara sesama. Prof. Irfan tidak sedang membicarakan hal teknis medis, melainkan ingin menyentil kesadaran tentang pentingnya nilai-nilai persaudaraan kemanusiaan. Dalam situasi tertentu –misalnya, genting dan kritis, seperti kebutuhan darah dalam proses tindakan medis, ternyata kita tidak lagi memikirkan siapa orang di balik setetes darah yang menyelamatkan nyawa itu. Kita tidak peduli sukunya, agamanya, atau kelompoknya. Yang kita lihat hanyalah satu: ada orang yang mau menolong.

Ya, dalam banyak kondisi, siapa pendonor darah itu menjadi hal yang tidak relevan. Apa yang paling penting adalah ada darah yang cocok, dan ada seseorang yang bersedia untuk berbagi kehidupan. Di saat-saat seperti itu, batas-batas identitas sosial dan budaya luluh lantak oleh nilai luhur kemanusiaan.

Saya teringat beberapa bulan lalu saya dan tim berkenalan dengan seorang ibu di pedalaman. Dia membantu kegiatan kami dengan sangat luar biasa, meskipun tiada seorang pun di antara kami yang beliau kenal sebelumnya. Sama-sama asing. Agama, suku, dan kelompok kami berbeda.

Ketika hari itu, dalam perjalanan pulang dari lapangan, beliau menceritakan lika-liku perjalanan hidupnya. Beliau pernah menjalani operasi besar dan membutuhkan transfusi darah rhesus positif. Keluarganya sempat kesulitan menemukan golongan darah yang sesuai. Setelah mencari ke sana kemari, akhirnya mereka menemukan seorang pendonor. Uniknya, pendonor tersebut berasal dari latar belakang suku dan agama yang berbeda dengannya. Namun, perbedaan itu sama sekali tidak menjadi halangan. Justru dari situlah, teman beliau mengaku bahwa ia sangat tersentuh. Kenangan itu tak pernah pudar dari ingatannya. Bahkan, pengalaman tersebut menjadi inspirasi bagi dia untuk lebih terbuka, lebih peduli, dan lebih aktif membantu orang lain, tanpa melihat latar belakang mereka.

Cerita ini mengajarkan kita bahwa nilai kemanusiaan harus selalu diletakkan di atas segala bentuk identitas eksklusif. Di tengah dunia yang dipenuhi dengan propaganda kebencian, sektarianisme, dan bahkan terorisme, kita justru perlu lebih sering mengingatkan diri bahwa dalam banyak hal, kita sama-sama rapuh, sama-sama butuh, dan sama-sama bisa menolong.

Terorisme tumbuh dari tanah yang penuh curiga dan kebencian, dari narasi yang menganggap “orang lain” sebagai ancaman. Namun, perumpamaan tentang donor darah ini menghancurkan asumsi tersebut. Ia menunjukkan bahwa di balik semua perbedaan, ada satu benang merah kemanusiaan yang mengikat dan menghubungi kita.

Pembelajaran penting dari penceritaan ini adalah bahwa kita perlu memelihara ruang-ruang persaudaraan di luar batas-batas identitas. Kita perlu memperluas wawasan dan keberanian untuk menerima, bahkan mencintai, orang lain apa adanya. Karena bisa jadi, di saat paling genting dalam hidup, yang menyelamatkan bukanlah mereka yang serupa dengan kita, tapi mereka yang berbeda.

Sebagaimana pesan Prof. Irfan malam itu, perumpamaan semacam ini penting untuk terus disampaikan, agar kita tidak tersesat dalam sekat-sekat sempit. Kemanusiaan haruslah menjadi kerangka bersama, di mana kasih sayang lebih penting daripada identitas, dan bantuan lebih utama daripada prasangka. (Yusriadi, FKPT Kalbar)