Mewujudkan Pemuda Cerdas, Kritis dan Cinta Tanah Air
Pangkalpinang, FKPT Babel — Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggelar kegiatan Rembuk Merah Putih dengan tema “Mewujudkan Pemuda Cerdas, Kritis dan Cinta Tanah Air”, bertempat di Aula Depati Bahrin, BPMP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kegiatan yang diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan, antara lain tokoh lintas agama, jurnalis kampus dan sekolah, serta para konten kreator muda.(04/08/2025)
Dalam kegiatan tersebut mewakili Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Plt. Kepala Badan Kesbangpol Provinsi, Ferdiyan Hermawan Loebis, menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai kebangsaan di tengah kompleksitas tantangan global saat ini.
“Ancaman disinformasi, intoleransi, dan radikalisme kini tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dapat tumbuh dari dalam apabila kita lengah. Forum seperti ini sangat penting untuk memperkuat komitmen kebangsaan, khususnya bagi generasi muda,” tegas Ferdiyan.
Ia menambahkan bahwa menjadi pemuda kritis bukan berarti destruktif, dan menjadi cerdas bukan berarti apatis. Cinta tanah air, menurutnya, harus diwujudkan melalui tindakan nyata—baik dalam bidang pendidikan, seni budaya, maupun kontribusi terhadap ekonomi lokal.
“Kami mengajak para pemuda untuk terus memperluas wawasan kebangsaan dan kemanusiaan, serta mengisi ruang digital dengan narasi yang membangun dan menyatukan,” lanjutnya.
Ferdiyan juga menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mendukung penuh kegiatan-kegiatan yang bertujuan menjaga keutuhan bangsa melalui pendekatan dialogis dan kolaboratif.
Sebagai keynote speaker dalam kegiatan ini, Anggota Komisi XIII DPR-RI Melati Erzaldi menyampaikan pentingnya peran pemuda dalam menangkal radikalisme, terorisme, dan paham intoleran di era digital.
“Rembuk Merah Putih bukan sekadar diskusi. Ini adalah upaya merumuskan bagaimana generasi muda bisa menjadi benteng utama bangsa dalam menghadapi ancaman ideologis yang memecah belah,” ungkap Melati.
Ia menggarisbawahi bahwa pemuda harus menjadi pilar informasi yang mampu membaca realitas secara objektif, tahan terhadap provokasi, dan aktif dalam menyuarakan perubahan yang positif.
“Pemuda kritis bukan berarti suka melawan, tetapi mereka yang berani bertanya, berpikir, dan melahirkan solusi. Pemuda tidak boleh mati terhadap persoalan bangsa, tapi hadir sebagai agen perubahan,” tuturnya.
Melati juga menekankan bahwa cinta tanah air bukan sekadar simbolik, tetapi komitmen jangka panjang yang ditunjukkan dalam karya dan kontribusi nyata. Ia mendorong agar forum-forum seperti ini menjadi tradisi intelektual dan ruang partisipasi aktif pemuda dalam menjaga keutuhan NKRI.
“Pemuda bukan hanya pewaris bangsa, tapi penentu arah bangsa. Rembuk Merah Putih ini bukan akhir, melainkan awal dari gerakan bersama melawan terorisme dengan kecerdasan, kritik, dan cinta tanah air,” tutup Melati.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata sinergi antara pemerintah, legislatif, dan masyarakat dalam upaya pencegahan radikalisme serta penguatan ideologi kebangsaan di kalangan generasi muda.