Kesbangpol Babel sosialisasi pencegahan IRET di MAN 1 Pangkalpinang

Pangkalpinang, FKPT Babel — Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyelenggarakan Sosialisasi Pencegahan Radikalisme dan Terorisme di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Pangkalpinang Kegiatan yang mengupayakan pencegahan penyebaran paham radikal dan intoleran di kalangan generasi muda, menggandeng Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai narasumber dengan peserta yang terdiri dari para guru serta siswa-siswi MAN 1 Pangkalpinang, Selasa (06/08).

Dalam sambutannya, Plt. Kepala Badan Kesbangpol Provinsi, Ferdiyan Hermawan Loebis, menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga persatuan bangsa. Ia menyampaikan bahwa usia pelajar merupakan kelompok paling rentan terhadap pengaruh ideologi ekstrem. Ferdiyan menguraikan sejumlah strategi pencegahan, di antaranya:

  • Penanaman wawasan kebangsaan dan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, serta Bhineka Tunggal Ika sebagai benteng dari upaya disintegrasi bangsa.
  • Peningkatan literasi informasi untuk menghadapi hoaks, disinformasi, dan propaganda melalui penguatan literasi digital dan kemampuan berpikir kritis.
  • Optimalisasi peran institusi pendidikan sebagai ruang dialog yang membentuk karakter pelajar yang toleran, moderat, dan cinta tanah air.
  • Kolaborasi aktif antara lembaga pendidikan, aparat penegak hukum, tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam pelaksanaan sosialisasi yang efektif dan berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat BNPT RI, Kolonel (Sus) Dr. Harianto, M.Pd dalam paparannya menjelaskan tentang perkembangan terorisme secara global, regional, dan nasional, termasuk pola pendanaan, serta langkah strategis yang diambil oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan pemerintah Indonesia. Ia juga menggarisbawahi meningkatnya aktivitas ekstremisme kekerasan di ruang digital.

“Teknologi yang seharusnya menjadi sarana positif, kini disalahgunakan oleh kelompok teroris dan simpatisannya. Radikalisasi secara online bahkan menjadi saluran radikalisasi kedua tertinggi di Indonesia,” tegasnya.

Ia menambahkan, berbagai lembaga telah melakukan langkah pencegahan seperti pengendalian konten, patroli siber, pemblokiran propaganda radikal, serta peningkatan literasi digital di masyarakat.

Ketua FKPT Babel Subardi, juga mengangkat isu maraknya penyebaran ideologi kekerasan melalui media sosial dan kelompok tertentu, termasuk ajakan untuk menolak Pancasila dan menggantinya dengan sistem khilafah. Ia mengajak para pelajar untuk bersikap kritis dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi.

“Pelaku teror seringkali hanya mendengar satu versi informasi dan langsung mempercayainya. Jika ada ajakan mencurigakan atau komunitas tertentu yang meragukan nilai kebangsaan, jangan ragu untuk berdiskusi dengan guru atau orang tua,” ujarnya.

Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi benteng awal bagi para pelajar dalam menangkal paham-paham radikal dan terorisme, serta memperkuat semangat kebangsaan di lingkungan sekolah.