FKPT Maluku Utara Gelar Coaching Enumerator Survei Indeks Potensi Radikalisme secara Hibrid
Ternate — Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Maluku Utara menggelar kegiatan Coaching Enumerator untuk pelaksanaan Survei Indeks Potensi Radikalisme (IPR) dengan model hibrid pada hari Kamis, 11 September 2025. Kegiatan dikoordinatori oleh tim peneliti Dr. Arlinah, dibantu asisten peneliti Zulkifli, M.Si., dan melibatkan 20 enumerator yang berasal dari alumni serta mahasiswa tingkat akhir Program Studi Antropologi Sosial. Kegiatan tatap muka dilaksanakan di Ruang Laboratorium Prodi Antropologi Sosial, Universitas Khairun, sementara sebagian peserta mengikuti secara daring. Peserta mengikuti materi dari narasumber BNPT secara daring bersama 4 FKPT lain di wilayah Timur yakni Maluku, Papua, dan Papua Barat.
Menurut Dr. Arlinah, tujuan utama coaching ini adalah memastikan bahwa seluruh enumerator memahami instrumen IPR, teknik wawancara sensitif, serta etika penelitian lapangan ketika menyentuh isu-isu yang berpotensi memicu ketegangan sosial. Direktur Pencegahan BNPT, Prof. Dr. Irfan Idris, M.A. dalam pengarahannya menekankan bahwa pengumpulan data harus dilakukan secara cermat agar hasil survei dapat menjawab kebutuhan kebijakan pencegahan terorisme yang tepat sasaran. Pada sesi praktik, peserta diberi simulasi pengisian kuesioner dan role-play wawancara untuk menghadapi responden yang ragu atau sensitif.
Asisten peneliti Zulkifli, M.Si. menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa dan alumni Prodi Antropologi Sosial sengaja difokuskan untuk memadukan kemampuan teoritis dan pengalaman lapangan. “Mahasiswa tingkat akhir mendapat kesempatan praktek langsung, sementara alumni membantu transfer keterampilan teknik wawancara dan manajemen data,” katanya.
Tahun ini, survei IPR Wilayah Maluku Utara akan dilaksanakan di dua kota yaitu Ternate dan Tidore Kepulauan, serta di empat kabupaten yakni Halmahera Barat, Halmahera Utara, Halmahera Selatan, dan Pulau Morotai. Kegiatan survei akan berlangsung selama satu bulan penuh dengan target 400 responden yang tersebar di enam wilayah tersebut. Para enumerator akan mengaplikasikan instrumen survei yang telah diseragamkan secara nasional dengan menggunakan aplikasi pengumpulan data digital.
Kegiatan Bidang Penelitian dan Pengkajian FKPT Maluku Utara ini juga merupakan bagian dari rangkaian pelatihan serupa yang dilaksanakan oleh BNPT RI sejak 8 hingga 12 September 2025 di berbagai provinsi. Pendekatan hibrid dipilih untuk menjaga kesinambungan pelatihan nasional, sekaligus mengakomodasi keterbatasan mobilitas sebagian enumerator dan narasumber.
Dengan dilaksanakannya coaching ini, FKPT Maluku Utara berharap survei IPR 2025 dapat menghasilkan peta potensi radikalisme yang valid di tingkat provinsi. Data ini akan menjadi dasar penting bagi pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan masyarakat sipil dalam merancang intervensi pencegahan radikalisme yang lebih tepat sasaran.