FKPT Jatim Soroti Darurat Perlindungan Anak di Ruang Digital, Resiliensi Keluarga Jadi Kunci Utama

Fkptcenter.id – Surabaya, RRI Surabaya menggelar Dialog Darurat Perlindungan Anak di Ruang Digital pada Kamis (27/11/2025), menghadirkan narasumber Prof. Dr. Hj. Mutimmatul Faidah, M.Ag., Bendahara FKPT Jawa Timur sekaligus Direktur Pusat Pencegahan Kekerasan Seksual (PPKS) Unesa.

Dalam dialog tersebut, Prof. Mutimmatul menegaskan bahwa digitalisasi kehidupan sudah tidak dapat dihindari, namun kesiapan masyarakat dalam menghadapinya masih jauh dari ideal—termasuk di kalangan anak-anak.

Menurutnya, derasnya perubahan era digital tidak disertai literasi dan perilaku yang tepat dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, angka adiksi digital di Indonesia meningkat drastis, terutama pada anak dan remaja. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia kini memiliki 154 juta pengguna gim online, jumlah yang setara hampir separuh populasi nasional.

“Ketika anak-anak tidak terliterasi digital dengan baik, apa yang mereka konsumsi di ruang digital bukan hanya permainan, tetapi juga konten yang membentuk memori jangka pendek. Jika terus-menerus diulang setiap hari, memori itu mengendap menjadi memori jangka panjang yang berpengaruh pada habit bahkan pembentukan karakter,” jelasnya.

Prof. Mutim menegaskan bahwa problem utama saat ini adalah kecanduan platform digital yang banyak berisi konten negatif.

Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi sinergis lintas elemen bangsa—mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, hingga negara—dalam melindungi anak dari dampak buruk dunia digital.

“Peran keluarga menjadi kunci utama. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Namun kenyataannya, banyak keluarga kini terjebak dalam fenomena “alone together”—secara fisik bersama, tetapi secara psikis sibuk dengan gawainya masing-masing,” ujarnya.

Ia mendorong keluarga untuk kembali menghadirkan interaksi yang hangat dan berkualitas melalui kebiasaan sederhana seperti makan bersama, berbincang tanpa gawai, dan melakukan aktivitas offline yang mulai hilang di era digital.

“Mari kita tumbuhkan komunikasi yang harmonis di dalam keluarga, karena resiliensi keluarga adalah benteng pertama untuk memfilter perilaku negatif anak dari gempuran digital,” tegasnya.