BNPT dan FKPT Babel Gelar Kegiatan “Menuju Terang: Memahami Terorisme Lewat Empati Digital” untuk Pelajar dan Mahasiswa
Pangkalpinang, FKPT Babel – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggelar kegiatan bertajuk “Menuju Terang: Memahami Terorisme Lewat Empati Digital” pada Tahun Anggaran 2025. Program ini dirancang untuk melibatkan pelajar SMP, SMA sederajat, dan mahasiswa dalam upaya pencegahan terorisme melalui literasi digital yang berlandaskan nilai-nilai empati. (13/08)
Kegiatan dilaksanakan secara hybrid, menggabungkan metode daring dan luring. Sebanyak 15 peserta dari Universitas Kalbis Jakarta hadir secara langsung di Hotel Artotel Thamrin Jakarta. Sementara itu, 85 peserta terdiri dari perwakilan pelajar SMP, SMA sederajat, dan mahasiswa dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengikuti secara daring.
Ketua FKPT Babel, Subardi, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan agenda kedua FKPT Babel di tahun 2025. Sebelumnya, pada 4 Agustus 2025, FKPT telah menyelenggarakan kegiatan bertema “Rembuk Merah Putih” di BPMP Babel.
Menurut Subardi, tema empati digital sangat relevan karena Bangka Belitung sejak 2018 hingga 2024 tercatat memiliki Indeks Potensi Radikalisme (IPR) di atas rata-rata nasional berdasarkan survei tahunan BNPT. “Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman peserta mengenai akar masalah, proses radikalisasi, dan dampak terorisme dari sudut pandang korban, mantan pelaku, dan ahli. Peserta diharapkan mampu mengenali peran ruang digital dalam penyebaran ideologi kekerasan, menghadapinya dengan bijak, serta menjadi agen penyebar narasi damai melalui media sosial dan komunitas masing-masing,” tegas Subardi.
Materi disampaikan oleh Kepala SMA Negeri 1 Manggar, Sabarudin. Ia mengingatkan peserta bahwa di balik kemudahan internet tersembunyi ancaman tak kasat mata berupa radikalisme dan terorisme yang menyusup melalui layar gawai. Konten yang tampak biasa dapat secara perlahan menanamkan ideologi berbahaya.
Sabarudin menekankan bahwa generasi muda adalah target utama kelompok radikal. Kerentanan ini dipicu oleh fase pencarian jati diri, intensitas penggunaan media sosial, kemudahan terpengaruh narasi heroik, serta minimnya literasi digital dan kemampuan berpikir kritis.
Menurutnya, melawan radikalisme memerlukan empati digital—yakni kesadaran bahwa di balik layar ada manusia dengan perasaan. “Dengan empati digital, kita hadir bukan hanya sebagai pengguna media, tetapi juga penjaga ruang publik digital. Kita harus melawan narasi kebencian dengan narasi kebaikan,” ujarnya.
Ia menutup penyampaiannya dengan ajakan, “Mari kita nyalakan terang di tengah dunia digital yang gelap oleh ujaran kebencian. Kita bukan hanya generasi online, tetapi juga generasi peduli. Empati digital adalah cahaya dalam gelapnya dunia maya, mari jadi generasi yang menyala untuk damai.”
Materi berikutnya disampaikan oleh Kasi Pengawasan Jaringan BNPT RI, Andityas Pranowo. Ia mengungkapkan bahwa tugas BNPT di bidang kontra propaganda sangat berat, terutama dalam menghadapi narasi negatif yang berkembang pesat di dunia maya.
Andityas menjelaskan bahwa dunia maya memiliki sifat gratis, cepat, dan mudah diakses banyak orang, sehingga menjadi lahan subur bagi kelompok radikal untuk menggerakkan aksi, termasuk lintas ideologi yang melibatkan kelompok lama.
Ia memberikan gambaran ciri-ciri individu yang mulai terpapar paham radikal, antara lain menjadi antisosial, mendadak pendiam, merasa kelompoknya unggul, bersikap rahasia, mengalami perubahan emosi, mengkritik pemerintah secara berlebihan, memutus hubungan dengan keluarga, dan tidak nyaman dengan perbedaan.
Sebagai solusi, ia mendorong generasi muda untuk aktif mengikuti kegiatan positif seperti ekstrakurikuler, pramuka, dan organisasi yang menanamkan nilai kebangsaan. “Pengingkaran terhadap Pancasila dan NKRI harus ditolak. Peserta yang hadir di sini diharapkan menjadi agen perubahan, bukan sekadar menggugurkan kewajiban,” pesannya.
Kegiatan ditutup dengan sesi dialog interaktif antara narasumber dan peserta, serta penayangan video testimoni korban terorisme. Momen ini menjadi refleksi mendalam bagi pelajar dan mahasiswa untuk berkomitmen menjadi bagian dari solusi dan penebar perdamaian di dunia maya maupun di kehidupan nyata.
